Sudah sedari tadi lelaki itu mengecek hp nya seperti ada sesuatu yang tak bisa dia lewatkan. Sepersekian detik Eza nonaktifkan data, matikan hp, lalu nyalakan lagi, cek kembali. Seterusnya berulang kali.
Dia mengecek sekali lagi, namun yang dinantinya masih tak kunjung muncul dari papan notifikasi atas. Ia mengacak acak rambutnya yang ngga kena air selama tiga hari tiga malam.
'Hmm, dari semalam belum dibalas juga pesanku' ucapnya dalam posisi ritual panggilan alam. Berak.
Eza baru saja berkenalan dengan seorang cewek di aplikasi Whatsapp yang secara tidak sengaja. Namanya, Hijrah. Cewek yang baru saja naik Madrasah Aliyah. Umurnya sekitar 16 tahun, hanya selisih 2 tahun dengan Eza.
Kisah perkenalan mereka dimulai saat Eza hendak mengirim CV nya untuk melamar sebagai PJ event sebagai kerjaan sampingan. Yang ternyata nomor yang dichatnya adalah nomor Hijrah, sebagai KPJ nya.
'Permisi,selamat pagi dan bla bla... dst' ketik Eza di balon teks untuk salam pembuka.
Setidaknya setelah 12 menit pesan itu baru ditanggapi. Dijawabnya: 'Ngga dulu ya kak, soalnya aku juga PJ,' plus dikasih stiker kucing tersipu malu.
: 'Bentar, ini seri'us' apa seri'we'? Ngga salah kan ini nomornya. Kok jawabannya gini.'
Heranku saat itu.
Aku sendiri masih tak percaya, dia bercanda apa emang ini salah nomor? Cewek sejatinya penuh dengan teka teki. Maka kita sebagai cowok harus menjadi pemecah teka teki itu. Jadi peka. Begitulah kira-kira.
Tak lama muncul lagi pesan teks darinya: 'Owh ini abg nya mau daftar ya? Sorry sorry, soalnya sambil makan ini'. Tambahnya lagi stiker dino gemoy warna kuning.
Aku saat itu tepuk jidat kuat. Bukan karena 'ya ampun', tapi ada nyamuk segede bulir beras di sana.
'Kirain salah nomor tadi,' balasku singkat.
Akhirnya aku dan dia berkenalan lebih jauh tentang keseharian kami. Sampai setelah perbincangan panjang itu aku diterima. Sebagai pendamping? Bukan, sebagai PJ event.
Dia adalah cewe yang asik menurutku, orangnya fast respon dan friendly. Tapi aku rasa itulah soft skill yang wajib ada pada seorang KPJ atau PJ. Sebab mereka dituntut untuk menawarkan banner atau brosur secara bersahaja.
'Oke, kalau gitu makasih ya' adalah pesan terakhir yang kuketik hari itu. Dua pekan yang lalu.
Itulah awal aku pertama kali mengenalnya, cewek yang tak kusangka akan jadi secercah sinar harapan untuk jiwaku yang beku.
**
'kaaak? Udah belum beraknya? Kok lama bangeeet! Udah satu jam ini loh, kakak berak apa tidur sih di dalam?! aku mau pipis, cepat keluar!' seru Ifa, adik Eza.
Pintu fiber itu di gedor gedor kuat sampai mau hancur dengan seisi rumah.
Eza panik, tidak di duga sudah selama itu dia buang hajat. Padahal dari 50 menit yang lalu harusnya sudah selesai.
Namun, itulah kebiasaan aneh lelaki. Mungkin karena yang penghuninya sama sama setan? Entahlah, masih jadi sebuah misteri yang tak kalah misterius dari hilangnya kota Atlantis.
'Iya iya, sorry, kakak nyaman di dalam' cetus Eza di muka pintu toilet. Wajahnya tampak lega.
Tak butuh 3 detik, Eza sudah berada di ruang depan. Dia duduk di atas kursi dekat jendela yang terbuka. Semilir angin pagi menjelang siang buatnya ingin tidur di hari minggu ini.
:Sahuuuur... Sahuuur... Sahur Sahur!
'astagaa sahur!' ucapnya kaget. Notifikasi hp nya baru saja berbunyi dari atas meja di sampingnya. Eza yang tadi rada ngantuk seketika segar seperti di siram air le mineral, kayak ada manis manisnya.
Maklum saja, belum lama puasa dan lebaran usai. Jadi Eza belum bisa move on dengan dua momen itu. Tangannya raih hp itu tanpa susah payah.
Di benaknya, semoga itu adalah notif balasan dari Hijrah. Matanya berbinar. Antusias ingin tahu notif itu dari siapa.
Di bacanya isi pesan itu dengan suara agak keras.
'Za, pinjam dulu seratus, nanti aku balikin minggu depan.'
: 'What the help! Apa ini cok!' ketusnya dalam hati dengan ekspresi emot batu. Eza lalu membalas pesan teman tongkrongannya, Aldi.
'Ngga bisa, pinjam sama yg lain aja sana,'
'Ya elah, jgn lupa, kamu jga masih ada utang sama aku, udh 3 minggu ngga kamu balikin' jawab Aldi di balon teks.
'Ya udah, boleh deh, hehe.' tulis Eza plus emoji claphands.
Percakapan mereka berakhir. Tapi hati Eza belum. Dia tetap setia, setia menanti balasan dari Hijrah, cewek yang menarik hatinya.
**
Sore pun melambai dari atas buana. Menyapa pandang Eza yang seharian sibuk menatap layar gadget. Dari atas teras, Eza duduk sambil pegangi buku dan pena. Menulislah dia. Sesekali matanya diarahkan kembali ke sekitar, seolah mencari inspirasi.
: 'Sampai sore ini pesanku masih saja tak dibalasnya, namun, aku tetap menunggu. Walau pun itu harus berhari hari, berbulan bulan, atau bertahun tahun. Aku tak tahu kenapa, tapi aku rasa, percaya. Semoga saja aku tak salah.'
Tulis singkat Eza pada lembaran buku yang ujungnya tersapu pelan desir angin. Kepalanya mendongak ke atas, matanya nanar menatap jauh di langit biru bergradasi jingga. Lama.
Suara napas di embusnya lirih, dalam.
Sebuah balon merah terbang lepas melintasi atmosfer.
'Aku rasa..., aku mau Hijrah,' ujarnya lalu tersenyum.
Senyum penuh makna yang tak bisa diucapkan lewat untaian kata kata.
Seketika itu juga—
TING!
Notifikasi masuk.
Dengan hati berbunga, Eza buru-buru raih HP-nya. Jantungnya deg-degan, tangan sedikit gemetar.
Ia buka layar, menatap lekat.
Tertulis:
“Promo paket kuota malam, 5 GB cuma 5 ribu. Berlaku sampai besok.”
Eza terdiam.
Senyumnya hilang.
'...Bangsaat'
HP ditaruh kembali. Kesal.
Tapi jauh di dalam hatinya, ia masih percaya.
Balon merah di langit terus terbang.
Dan Eza masih menunggu.
Komentar