Entah sudah berapa lama dia di sana, duduk di depan teras rumah. Duduk bersama sunyi dan suara jangkrik. Tanpa baju melekat di badannya, seolah dingin adalah baju untuknya. Tatapannya datar ke arah gelapnya malam berbaur kilau lampu kota yang ramai. Adalah bapak. Sarung cap gajah duduk kotak kotak hitam dipakainya. Di temani secangkir kopi di atas meja disampingnya. 'sruuuupp, aaah' Kopi hitam itu diseruputnya nikmat. Aku sedari tadi memerhatikannya dari muka pintu. Waktu sudah hampir tengah malam, namun bapak masih betah duduk di kursi dari jaman kerajaan Majapahit itu. Kakiku kesemutan berdiri dari tadi cuma untuk menunggunya masuk rumah. Aku ngga berani temui dia langsung di momen tenangnya itu. Tak tahu kenapa, biasanya aku biasa saja, berani berani saja temui bapak pas lagi duduk di teras. Tetapi di malam itu suasananya berbeda. Ada yang janggal. Padahal aku berniat ingin minta duit buat beli tas baru sejak lama. Sudah kuminta di Ibu,...
Sudah sedari tadi lelaki itu mengecek hp nya seperti ada sesuatu yang tak bisa dia lewatkan. Sepersekian detik Eza nonaktifkan data, matikan hp, lalu nyalakan lagi, cek kembali. Seterusnya berulang kali. Dia mengecek sekali lagi, namun yang dinantinya masih tak kunjung muncul dari papan notifikasi atas. Ia mengacak acak rambutnya yang ngga kena air selama tiga hari tiga malam. 'Hmm, dari semalam belum dibalas juga pesanku' ucapnya dalam posisi ritual panggilan alam. Berak. Eza baru saja berkenalan dengan seorang cewek di aplikasi Whatsapp yang secara tidak sengaja. Namanya, Hijrah. Cewek yang baru saja naik Madrasah Aliyah. Umurnya sekitar 16 tahun, hanya selisih 2 tahun dengan Eza. Kisah perkenalan mereka dimulai saat Eza hendak mengirim CV nya untuk melamar sebagai PJ event sebagai kerjaan sampingan. Yang ternyata nomor yang dichatnya adalah nomor Hijrah, sebagai KPJ nya. 'Permisi,selamat pagi dan bla bla... dst' ketik Eza di balon teks untuk ...