Sudah sepagi ini tapi aku masih saja tak bisa tidur. Ini hari minggu. Hari yang identik dengan liburan dan me time. Tapi bagiku, minggu ini adalah yang terburuk. Mungkin.
Aku seperti panda yang kerja kantoran.
Apakah po "the knight dragon" telah pensiun dari dunia perfilman? Bisa jadi,
Tapi tentu saja ini berbeda.
Jika panda itu identik dengan gemoy dan pendek, maka aku adalah panda versi 'tunggu kiris' plus punya akal sehat.
Sedari tadi mataku sibuk menatap layar monitor yang telah menyala lebih dari seperempat malam.
Karena kalau sepertiga malam itu adalah waktuku untuk mendoakanmu.
Jemari keringku tak mau ketinggalan ikut menggeser geser mouse di atas meja.
: 'ikuti aku'
'Aku butuh senjata'
'Triple kill'
'Heizz'
Suara dan bunyian itu menggema di penjuru kamar, menemaniku selepas subuh tadi.
Aku sebenarnya tak ada rencana untuk melakukan ini. Awalnya kucoba untuk tidur. Namun entah mengapa, semalaman aku cuma jadi bantal guling. Guling sana guling sini. Ngga ada yang mau peluk juga.
Tapi kenapa ini bisa terjadi? Sudah pasti bukan karena galau diputusin Dia.
Namun, semua ini berawal kisah dari seteguk kopi hitam yang ku makan bersama sebiji gorengan dikali 7, saat tongkronganku bersama teman semalam.
Aku tidak pernah mencoba kopi selama hidupku. Sampai malam itu tiba. Ku pikir tak mengapa minum kopi untuk pertama kalinya.
Setiap pengalaman itu berharga.
Meski aku tau kopi itu bikin melek, sebab mengandung kafein, tapi karena sering liat bapak minum malam hari, dan setelahnya bisa tidur pulas sampai ngigau. Membuatku tak ragu menenggak segelas kopi tubruk hangat cap kapal api masuk kerongkonganku. Lalu meluncur ke lambung.
'Rokok Riz?' tawar salah seorang teman yang merupakan kakak kelasku.
'Kamu ini gimana, riz kan ngga ngerokok,' sahut temanku yang lain di pojokan yang juga kakak kelasku.
Kami semua ada 8 orang, dan kami nongkrong di salah satu rumah teman yang ditinggal pergi orang tuanya, sehingga diundangnya kami untuk ke rumahnya.
Dan aku menjadi salah satu yang teradik di perkumpulan kami. Termasuk anak pemilik rumah yang seleting denganku.
Aku sebenarnya adalah anak home alone. Sangat jarang keluar rumah, apalagi untuk nongkrong seperti malam ini. Tetapi, temanku datang ke rumah dan meminta izin kepada ibu.
Walau ada sedikit melodrama indosiar, namun pada akhirnya aku berhasil dapat tiket restu.
'Eh, kamu orang tau, si Rina adek kelas yang cantik itu, katanya habis ditembak sama Faiz, tapi di tolak kasiaan, hahaha' ucap seorang teman bernama Faril.
'Hammaaa, serius ka faiz? Yang sabar nah, saya pi boleh itu baru dia mau' ejeknya.
Ruang tamu seketika riuh penuh tawa bahak. Aku pun yang saat itu di sofa dan asik menonton mereka main PS juga berdehem.
'Biarkan, yang penting dapat uang serangan dari nomor 1. Hee, merah 4 lembar.' ujarnya sambil melambaikan empat sekawan merah.
'Wee, belikan kita dulu gorengan,' seketika mereka berlima melompati faiz, geruduk, gedebuk terjadi. Seperti lagi nonton gulat gratis tapi ada komedinya.
Seperti inikah tongkrongan laki laki? Gumamku dalam hati. Ngakak aku melihat aksi kocak plus kekanak kanakan ini. Perut ku sakit jadinya. Namun baiknya, aku merasa diterima di sini, sepenuhnya oleh mereka. Mungkin itulah yang membuatku betah.
Dan memang, faktanya lelaki baru sehari kenalan aja udah kayak seabad berteman. Belum apa apa udah di ajak nantangin malaikat maut. Hadeeh.
Memang lelaki itu tak pernah sepenuhnya dewasa. Selalu saja ada aksi kocak dan humor receh di dalamnya. Dan ini sama rata untuk semua pria di dunia. Aku rasa.
Selepas aksi massa itu, aku dan temanku pergi membeli sekantung gorengan dan juga membuat kopi setelahnya.
**
'Kalian pernah bertanya, kenapa kopi bisa dikasih nama kopi? Atau kenapa sapi di kasih nama sapi? Kenapa?' tanya Agi di sela acara makan kami.
Kami semua duduk melingkar, macam orang lagi ngadain ritual.
:Ya ampun, pembahasan macam apa ini,'
Gumamku lagi sambil mengunyah pisang goreng.
'kalau sapi karena suaranya, moooo' jawab Rul. Gelak tawa terjadi lagi.
'Heh, kenapa dikasih nama begitu karena sudah begitu di kasih nama la pintaar' sahut faiz, yang memakai baju partai banteng merah. Kami melanjutkan makan dengan segudang cerita dan pembahasan nyeleneh, sampi di luar nurul.
'puuuuuttt'
terompet panggilan alam berbunyi nyaring di sela sela bincang dan makan kami.
Hening. Sepersekian milidetik, tawa ngakak parah pecah mengubur sunyi di pukul 23.27 malam.
Dan bunyi itu, sekaligus menjadi pengakhir dari seri tongkrongan kami.
**
Tok tok tok,
Pintu kamarku diketuk ringan. Diiringi panggilan pelan:'Nak,'
'Iya Bu, buka aja, pintu ngga dikunci,' ucapku pada ibu.
'Kamu ngga ikut jalan jalan ke permandian bareng? Banyak loh yang ikut,' jelas ibu.
'Ngga dulu deh bu, kalau aku ikut mandi di permandian yang ada sekeluarga bakal ada acara lebih besar lagi. Acara tahlilan,' kataku jujur.
Ibu menatapku lama, dahi mengernyit, lalu tersenyum.
'Kamu ini sembarang aja. Ya sudah, kamu makan, minum, minum susu, terus lekas istirahat ya. Ibu liat kamu ngga tidur semalaman, tuh, liat mata kamu, kayak pandaa,' ibu menerangkan.
Mengelus kepalaku pelan,
'Kalau gitu ibu sama yang lain berangkat dulu yaa nak,' sekali lagi ibu senyumi aku hangat.
Kemudian menutup pintu kamarku.
Segera kulakukan apa yang ibu pinta. Setelahnya, aku rasa sangat mengantuk. Ingin tepar. Ku ranjak berbaring di kasur. Aku rasa ku sudah siap terlelap dalam mimpi.
Ibu dan yang lain telah pergi weekend, menyisakan aku di rumah yang tampak besar untukku yang lelah. Sendirian. Di hari minggu.
Ku peluk erat bantal guling ultraman Zero favoritku.
'Tunggu aku, ultraman.'
Bersambung.
Komentar