Awalnya aku pikir damai itu hanya ada untuk sebuah suasana. Tapi ternyata, dugaanku salah. Damai itu justru menjelma seorang manusia.
——
Pagi itu aku sedang duduk sambil makan segunung nasi dan seuprit telor yang dibelah 5 kali.
Hp kutaruh disamping kiri agak jauh sambil kubiarkan datanya aktif. Lagi asiknya mulut mengunyah seperti sapi memamah rumput liar, bunyi notif mengejutkanku.
Suara notif 'Aiya ya anjelina makan tai' membuatku hampir ngakak saat itu. Siapa yang menggantinya ya? Perasaan aku pakai notif 'Tob tobi tob' deh. Ah, pasti adek lagi ini. Dugaku dalam gumam saat itu.
Segera ku tengok pesan apa yang menanti di panel layar hp kentangku.
Geraham berhenti kunyah, mata fokus memindai isi chat whatsapp dari nomor yang tak kukenali.
"Profilnya jungkook. Ngga heran ketemu ginian," gumamku lagi. Hanya ada info '~damai' di bawah profilnya. Isi chatnya menawariku masuk sebagai freelance PJ event di salah satu lembaga penerbit.
Benda itu ku letak kembali. Pikirku ingin menuntaskan hajat perutku yang ingin segera di isi, lalu menjawab pesan itu setelahnya.
Dan saat hendak ingin kembali makan, tak sadar piringku sudah dicomot oleh kucing peliharaanku yang entah kapan ikut ambil bagian makan sepiring berdua.
"Astagaa,, stop kamu pencuri makanan. Nanti kan aku bakal kasih kamu setelah iniii. Hadeeeh, sudah. Mabu main dulu sana sama Labu" ujarku seraya menampik badan bola berbulu menjauh dari makan pagiku.
Lanjut ku santap kembali sisa makanan yang belum di comot oleh Mabu kucingku.
Akhirnya tuntas sudah mengisi perut, dan sekarang waktunya kembali melanjutkan aktivitas. Punggungku sandar ke tembok. Helaku panjang. Pandangku menghambur di udara. Lega.
Jemariku merayapi lantai mengambil benda pipih yang kutinggal beberapa belas menit lalu di sana. Tak jauh dari posisiku sandar.
Ku buka kembali aplikasi hijau berlogo ponsel itu dari tab beranda. Ku tengok kembali pesan itu, dan berniat ingin menjawabnya "Iya kak", khayalku begitu.
Namun entahlah, terkadang pikiran tak selalu sinkron dengan gerak badan. Sama halnya denganku saat itu. Aku malah nanyain: nama kakak siapa?.
Lalu tak lama dia menjawab: namaku Damai.
Seketika otakku tiba-tiba blank sepersekian milidetik. Dan aku terkesima lalu sekali lagi berujar dalam hati: waaaw.. Ternyata namanya memang damai? Ada juga orang dengan nama itu.
Untuk yang lain mungkin biasa aja. Tapi bagiku, kenalan dengan orang dengan nama yang unik itu baru saja ku alami di momen itu.
Awalnya aku pikir damai itu hanya ada untuk sebuah suasana. Tapi ternyata, dugaanku salah. Damai itu justru menjelma seorang manusia. Sesosok wanita. Dan itu adalah damai, yang aku belakangan aku tau lewat promosi PJ Event.
Sampailah aku exited untuk bertanya dan terus bertanya padanya. Dan syukurnya Damai adalah tipe yang ternyata ramah, exited, dan fast respon sama orang.
Akhirnya kami pun melanjutkan obrolan sampai panjang lebar di pagi hingga menjelang siang.
Waktu seperti sebuah film diputar dengan kecepatan 2× lipat. Semua karena kami sama sama menikmati perkenalan itu dan saling memberi respon yang baik dan friendly dalam komunikasi tak langsung itu.
Dan belakangan di obrolan kami, aku tau umurnya baru 20 tahun, hanya terpaut 1 tahun lebih tua dariku.
Jadilah aku memanggilnya kak Damai yang kiranya aku anggap sebagai kakak perempuanku sendiri. Hehe.
Selang percakapan yang menghipnotis itu, aku senang. Senang sebab bisa berkenalan dengan orang baru. Sekian dari banyak orang baru yang sudah diriku kenal.
Dan di akhir balon teks, aku mengatakan: terima kasih kak, senang berkenalan dengan kak Damai.(dengan emoji senyum manis).
Ku nonaktifkan data, matikan hp.
Letaknya kembali di lantai. Napasku panjang. Pandanganku membaur di antara debu di celah lubang cahaya masuk. Badanku rebah di atas dinginnya lantai.
Mabu datang di sampingku, mengeong ngeong manja. Labu pun demikian, mengeong dari arah teras.
Hinggalah aku teringat belum memberi makan Mabu dan Labu, kucing bersaudara.
Siang itu, ku jongkok di teras, menonton kedua kucingku makan dengan lahapnya. Angin sepoi datang. Menyapu lembut kulit ku, sejuk.
Lalu... damai datang.
Bersambung.
Komentar