:Mohon maaf ya kak, kayaknya engga dulu deh." "Nanti aku pertimbangin lagi ya kak, terima kasih." "aku engga ada uang kak" "Ini bukan penipuan kan?"
Semua balasan yang ku dapat hari ini ketika mencari peserta satu per satu di tiap grup yang tersedia. Namun akhirnya jawaban penolakan selalu mendarat di balon teks, sekali lagi, lagi dan lagi.
Rasanya seperti mendapati karakter Alucardku di kill berkali kali' enemy has been slain'. Sudah 15 orang yang kutawari banner event hari itu.
Dan yap, belum ada satu pun yang berhasil ku closing sebagai peserta.
Pikirku akan mudah saja mengajak orang ikut event lomba. Apalagi untuk lomba yang sekiranya siapapun bisa: bercerita lewat puisi dan cerpen. Namun realitanya, menjadi seorang PJ Event adalah tantangan baru yang kudapati sejauh pengalamanku hidup.
Sore menjelang malam itu ku duduk santai di tepian teras sembari menikmati cenderamata terindah dari langit sore: senja. Senja yang mengingatkanku pada jingga.
Ku masih memegang handphone, sesekali bolak balik scroll reel di Instagram seperti orang bengong. Kayaknya aku kena doomscrolling.
Tiba tiba... Wuaaa!!
Jantungku terkejut bukan main, seolah speaker yang disetel main bass sound 15000 desibel.
: "Kamu iniiii, ngagetin abang aja," ucapku. Alisku naik 45 derajat di sisi utara barat daya, bola mataku serasa ingin keluar. Napas ngos ngosan kayak dikejar anjing liar. Pandangku pada adik perempuanku. Tina.
Dia tertawa cekikikan dengan satu gigi tanggal di baris tengah.
"Abang lagi apa?" tanya Tina.
"Engga ada kok, abang lagi santai aja," "Kamu belum mandi yaa Tin? Dah sana, mandi dulu. Baju kotor gitu." pergokku.
"Iya, ini juga mau mandi, tapi aku mau ambil handukku dulu, tuuu" tunjuknya pada handuk yang tergantung di tali jemuran di sisi kiri kami.
"Ya sudah, cepat mandi sana, ke buru magrib nanti." ucapku sambil mendorong kedua pundaknya.
Sosok dengan baju Labubu merah muda itu pergi. Dia telah turun ke lantai bawah meninggalkan ku kembali sendiri di teras atas. Sendirian.
Waktu seperti film yang diputar dengan kecepatan 1.5 kali. Kutatap jauh matahari yang semakin menenggelamkan diri ke dasar samudera.
Cakrawala menyulam benang-benang awan. Menjingga rona. Indah. Momen yang selalu ku tunggu setiap kali berada di teras atas. Yang entah mengapa aku begitu suka pada senja. Mungkinkah karena jingganya?
Semakin kutatap erat langit di kala sore itu, seperti menatap seorang kekasih hati. Aku duduk di atas kursi usang, menyandarkan tangan dan daguku ke sisi teras. Ku tak ingin kehilangan momen ini. Rasanya tak mungkin.
Senja melekuk sempurna di garis biru laut. Lengkung senja di horizon masa. Mengingatkanku kembali pada jingga.
**
Sore kembali menjemputku di pukul 16.47,
Hari yang melelahkan selepas beraktivitas. Sunyi rumah menyambutku hangat. Orang orang rumah pergi bersama ke kondangan nikah kerabat dekat. Menyisakan aku sebagai satpam penjaga. Ku lekas ke kamar mandi untuk bersih bersih.
"Ya ampun, shampo habis lagi," celetukku.
Segera berpakaian kembali dan ku bergegas ke warung tetangga yang hanya butuh 5 langkah untuk sampai.
"Bu, beli sampoo,"
"Yang kayak biasaa, Pantene," ucapku sambil mengecek kembali tulisan sachet sampo itu.
"Ouh, maksudnya sampo pentiin,"
"Nah, iya bu, pentin," gelagatku garuk kepala.
"Ini samponya. Aden harus belajar bahasa inggris deh kayaknya, haha," kelakar ibu itu. Aku hanya bisa menyengir lawas sambil garuk kepala lagi.
"Oke bu, terima kasiiih." Aku langsung balik secepat the flash. Masuk kamar mandi dan guyur habis habisan badanku yang lengket oleh peluh dan debu.
Seketika kamar mandi yang tadi senyap, menjadi aula konser dan ruang syuting film. Di situ, rasanya suaraku benar benar merdu nan syahdu. Padahal aslinya macam knalpot pecah.
Akting pun tampak lebih mudah bagaikan aktor kelas hollywood. Tak sangka, tempat itu sangat multifungsi dan mendukung bakat terpendam manusia. Terima kasih kamar mandi.
Selepas mandi, sudah wangi dan berpakaian rapi. Sunyi kembali menenun di telinga, di jiwaku. Ku tengok cermin, lama. Lalu beralih ke buku di atas laci disampingku. Tak tau kenapa, tanganku getir meraih itu tanpa pikir panjang. Kakiku otomatis mendaki anak tangga menuju teras atas.
Semilir angin lembut belai rambutku yang menyisakan basah. Ku hirup panjang udara disekitarku. Mengembusnya dalam dalam. Ku duduk di kursi usang. Lembaran buku itu ku buka. Perlahan lahan. Lembaran demi lembaran. Kosong.
Ku raih pena di selip antar lembaran, ku tulis sajak puisi di sore yang temaniku. Sendirian.
Senja kembali melekuk pesona di wajah buana. Mataku sayup pandangi dari ujung teras, bibirku melengkung tipis ke atas, seperti lengkung senja. Di sore itu, di sore yang lalu. Sore yang selalu ingin ku abadikan segenap jiwa dan hela napasku.
Yang selalu ku kenang di teras memangku dagu. Dan ku tulis di lembaran sajak sebelum malam. Yang mengingatkanku pada jingga dan ungu.
Bersambung.
Komentar